Jam 7 pagi gw di telfon si anjing. Karena masih ngantuk dan sepertinya terbaca si anjing ditutuplah telfon itu. Karena nggak bisa tidur lagi bangunlah gw terus nyalahin teve dan mencari chanell yang diperintahkan si anjing.
Ternyata ada naïf disitu, nggak lengkap sih, Cuma ada emil dan jarwo aja. Mereka sedang membahas album terbaru naïf yang kata emil satu-satunya album paling jujur karena direkam secara live saat naïf manggung di satu tempat di Jakarta, tanpa ada tambalan apapun di dalam musiknya dan direkam dari detik pertama dimulai sampai tepuk tangan terakhir.
Tapi gw nggak akan membahas Naif yang udah keren & bisa mempertahankan idealisme mereka dalam bermusik. Gw lebih tertarik sama host acara itu, satu cowok & satu cewek. Gw tertarik sama yang cewek *laki-laki normal gw*, tapi tertarik bukan karena rasa ketertarikan antara makhluk berbeda jenis kelamin, bukan rasa tertarik karena nafsu manusiawi, melainkan karena host cewek yang bernama Jill itu adalah mantan *atau masih?* vokalis band hardcore dari jakarta yang bernama Step Forward. Tapi lagi, gw nggak akan ngebahas jill atau step forwardnya.
Yang ingin gw tulis adalah apa yang dilakukan jill saat ini ketika tidak aktif lagi di step forward *atau masih aktif tapi vakum?* nggak tahulah gw, kurang update.
Anyway *bener nggak spellingnya?*, setau gw yang nggak tahu apa-apa nih, band-band indi label atau underground dari luar seperti Terror, BDM, Biohazard, Donny Brook, Bane, Himsa, etc, sampe band-band lokal semacam Forgotten, Puppen (RIP), Jeruji, xManusiaBuataNx, Domestik Doktrin, termasuk Step Forward dll itu punya attitude dan idealisme yang tinggi. Hal ini tergambar dari lirik-lirik mereka yang cenderung sarkastik, meneriakan kritik sosial, tentang Tuhan, tentang cinta dan orang yang lemah karenanya, anti pemerintahan, anti politik busuk, anti aparat sampe anti supir angkot yang ugala-ugalan. Musik mereka kenceng dan dipenuhi distorsi dari awal sampe akhir mengisyaratkan mereka orang-orang yang tangguh, punya sikap dan tidak mudah terbawa arus. Sesuai dengan pendapat Ady Forgotten “Attitude dan musik tidak dapat dipisahkan, keduanya berperan sama penting di dalam memberikan pengaruh pembentukan karakter sebuah band. Pada akhirnya akan sangat mempengaruhi corak dan warna dalam berkarya”.
Kembali ke attitude dan idealisme, dua hal tersebut biasanya diterapkan oleh band-band itu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sampai kadang mereka susah sendiri karena biasanya orang-orang seperti itu nggak mau bekerja untuk pemerintah, para kapitalis yang suka membodohi rakyat dan bidang-bidang lain yang dipenuhi para hipokrit.
Tapi seharusnya karena sikap seperti itulah mereka dihormati dan didengarkan, bukan dianggap berandalan kurang kerjaan dan makhluk-makhluk liar. Toh kalaupun mereka terkesan berandal dan liar, mereka mampu menghidupi diri sendiri dengan cara mereka sendiri. Selain itu mereka memilih jalan hidupnya seperti itu karena rasa jenuh terhadap lingkungan, orang-orang, tayangan teve yang nggak mutu dan lain sebagainya.
Terus apa hubungannya sama Jill? Secara eksplisit nggak ada sih, iseng aja gw mah, kan biar bisa nulis, ya nggak ‘jing?
Gw Cuma berharap jangan sampe jill ikut-ikutan kaya orang lain yang ingin terkenal. Mudah-mudahan jill nggak tergoda untuk main sinetron dan melupakan idealismenya (kaya tau aja gw!!), karena kau bisa hebat dan terkenal tanpa main sinetron Jill!! Hidup Jill…!!!!
Keep rockin’ with a hard distortion all of you!!!
Saat senja adalah segelas kopi untukku dan secangkir teh untukmu. Duduk berdua di beranda, bercerita...
Minggu, 09 Oktober 2011
Gara-Gara SMS (Chapter II)
Selasa, Syawal hari ke 14 1429 Hijriah. Gw turun gunung, mengunjungi beberapa tempat. Tujuan terakhir adalah Video Ezy Jalan Baru yang panas. Kebetulan temen gw kerja di sana, sekalian silaturahmi *padahal sering ketemu*.
Temen yang ‘sama’ sms lagi
“Ngapain?” katanya
Gw jawab “Gi di prmptan Jeddah” *Punten mang* hehehehe
“Goblog!” itu balesan dia.
Nggak gw bales karena gw sibuk milih film.
“Ngapain di per4an Jeddah?” dia sms lagi
Gw sms balik “Nongkrong sambil umroh. Panas!”
“Skalian umrohin gw ya” tulisnya lagi.
Selanjutnya gw lupa kami bahas apa. Yang gw inget waktu dia nanya
“Suka nonton film apa?”
“Apa aja gw suka. Tergantung mood nya. Sekarang gi pgn mikir ma liat settingan tmpt yg yg indah”
“Dah liat Into The Wild?”
“Blm. Td smpt pgang tp di smpn lg”. Padahal itu film udah gw masukin tas *sorry bohong!*.
Selanjutnya dia ngasih sedikit gambaran tentang film itu dan merekomendasikan satu film lagi, film animasi tentang lebah.
Akhirnya pulangah gw dengan film The Locals *film nggak bagus tapi bikin sedikit mikir*, Premonition nya Sandra Bullock & tentu saja Into The Wild, film lebahnya?buat lain kali, jadi bisa silatrahmi lagi dan pinjem film gratis lagi.
Sampe rumah langsung gw tonton Into The Wild tapi kepotong magrib sama tahlilan *penting nggak gw tulis?*.
Selesai gw nonton film itu, gw jadi pengen pergi kaya si Chris Mcandlles *tokoh utama Into The Wild*. Kenapa?
Karena ……
Into The Wild bercerita tentang seorang anak muda *chris tadi itu* berusia 21 tahun yang hidupnya sangat berkecukupan *bokapnya kerja buat NASA*, pintar, punya adik yang dia sayangin, orang tua yang nggak harmonis dan dia jenuh. Jenuh sama orang tua (parents), hipokrit, politisi dan orang-orang lain yang dianggap selalu menyakiti sesamanya. Intinya dia jenuh sama semuanya dan ingin menghindari masyarakat.
Singkat cerita, setelah kuliahnya di Emory Unoversity selesai dia memutuskan pergi bersama datsun tuanya. Tabungan dia yang berjumlah lebih dari 20 ribu dollar US diberikan untuk amal *nggak semua si, sisanya dia bakar*. Tujuan utama Alexander Supertramp *chris mengganti namanya sendiri* adalah Alaska dan dia memang berhasil sampai kesana, malah meninggal disana juga.
Nah…gw jadi berandai-andai bisa mengalami pengalaman si chris itu. Serunya jalan kaki sendirian, maen kayak disungai & laut, menyeberang sampe negara tetangga, naik kereta barang secara sembunyi-sembunyi, digebukin security, ketemu para backpackers, tidur di jalan, bukit, hutan & goa, nulis di malam hari tentang semua yang pernah dilewatin dengan cahaya seadanya, melakukan apa aja buat makan, kerja serabutan, berburu, mancing dengan cara konservatif, menemukan teman & keluarga baru, makan tumbuh-tumbuhan yang ada di bukit & gunung sampe akhirnya mati keracunan, pokoknya benar-benar berpetualang.
Tapi ada beberapa pertanyaan di pikiran gw, mungkin nggak, ada orang di negeri kita ini ngasih tumpangan secara cuma-cuma tanpa ada maksud lain?Mungkin nggak jalan-jalan atau tidur di jalanan dengan aman? Mungkin nggak ada orang yang baru kita kenal ngasih kerjaan tanpa pake lamaran? Mungkin nggak melakukan semua itu dengan perasaan nyaman tanpa ada rasa takut, dan tanpa modal awal *uang*? Mungkin nggak keinginan berpetualang seperti si chris itu terealisasi di Indonesia?
Mungkin nggak?
FYI, Into The Wild itu kisah nyata!!
Temen yang ‘sama’ sms lagi
“Ngapain?” katanya
Gw jawab “Gi di prmptan Jeddah” *Punten mang* hehehehe
“Goblog!” itu balesan dia.
Nggak gw bales karena gw sibuk milih film.
“Ngapain di per4an Jeddah?” dia sms lagi
Gw sms balik “Nongkrong sambil umroh. Panas!”
“Skalian umrohin gw ya” tulisnya lagi.
Selanjutnya gw lupa kami bahas apa. Yang gw inget waktu dia nanya
“Suka nonton film apa?”
“Apa aja gw suka. Tergantung mood nya. Sekarang gi pgn mikir ma liat settingan tmpt yg yg indah”
“Dah liat Into The Wild?”
“Blm. Td smpt pgang tp di smpn lg”. Padahal itu film udah gw masukin tas *sorry bohong!*.
Selanjutnya dia ngasih sedikit gambaran tentang film itu dan merekomendasikan satu film lagi, film animasi tentang lebah.
Akhirnya pulangah gw dengan film The Locals *film nggak bagus tapi bikin sedikit mikir*, Premonition nya Sandra Bullock & tentu saja Into The Wild, film lebahnya?buat lain kali, jadi bisa silatrahmi lagi dan pinjem film gratis lagi.
Sampe rumah langsung gw tonton Into The Wild tapi kepotong magrib sama tahlilan *penting nggak gw tulis?*.
Selesai gw nonton film itu, gw jadi pengen pergi kaya si Chris Mcandlles *tokoh utama Into The Wild*. Kenapa?
Karena ……
Into The Wild bercerita tentang seorang anak muda *chris tadi itu* berusia 21 tahun yang hidupnya sangat berkecukupan *bokapnya kerja buat NASA*, pintar, punya adik yang dia sayangin, orang tua yang nggak harmonis dan dia jenuh. Jenuh sama orang tua (parents), hipokrit, politisi dan orang-orang lain yang dianggap selalu menyakiti sesamanya. Intinya dia jenuh sama semuanya dan ingin menghindari masyarakat.
Singkat cerita, setelah kuliahnya di Emory Unoversity selesai dia memutuskan pergi bersama datsun tuanya. Tabungan dia yang berjumlah lebih dari 20 ribu dollar US diberikan untuk amal *nggak semua si, sisanya dia bakar*. Tujuan utama Alexander Supertramp *chris mengganti namanya sendiri* adalah Alaska dan dia memang berhasil sampai kesana, malah meninggal disana juga.
Nah…gw jadi berandai-andai bisa mengalami pengalaman si chris itu. Serunya jalan kaki sendirian, maen kayak disungai & laut, menyeberang sampe negara tetangga, naik kereta barang secara sembunyi-sembunyi, digebukin security, ketemu para backpackers, tidur di jalan, bukit, hutan & goa, nulis di malam hari tentang semua yang pernah dilewatin dengan cahaya seadanya, melakukan apa aja buat makan, kerja serabutan, berburu, mancing dengan cara konservatif, menemukan teman & keluarga baru, makan tumbuh-tumbuhan yang ada di bukit & gunung sampe akhirnya mati keracunan, pokoknya benar-benar berpetualang.
Tapi ada beberapa pertanyaan di pikiran gw, mungkin nggak, ada orang di negeri kita ini ngasih tumpangan secara cuma-cuma tanpa ada maksud lain?Mungkin nggak jalan-jalan atau tidur di jalanan dengan aman? Mungkin nggak ada orang yang baru kita kenal ngasih kerjaan tanpa pake lamaran? Mungkin nggak melakukan semua itu dengan perasaan nyaman tanpa ada rasa takut, dan tanpa modal awal *uang*? Mungkin nggak keinginan berpetualang seperti si chris itu terealisasi di Indonesia?
Mungkin nggak?
FYI, Into The Wild itu kisah nyata!!
Gara-Gara SMS (Chapter I)
Harinya gw lupa, tanggalnya juga lupa. Yang pasti di pagi hari, temen gw sms yang isinya kurang lebih begini.
“ Ada kuis ni di radio, pertanyaanya, setuju ngga sama program yustisi di Jakarta?atau punya cara lain?” *maaf kalo nggak lengkap*
Gw bales “Program yustisi itu apa?”
Dia jawab “ Operasi KTP untuk mengurangi pendatang gelap di Jakarta. Jadi yang nggak punya KTP sama pekerjaan dipulangin kekampungnya”
“SETUJU!!” Gw bales lagi.
Percakapan lewat sms itu terus berlanjut sampai keluar makian buat bangsa sendiri. Gara-garanya gw bilang orang-orang yang datang ke Jakarta itu ngga pernah nonton teve. Temen gw bales, mereka nonton tapi ngga nonton berita, nontonnya sinetron. Gw bales lagi pemerintah harusnya bikin RUU larangan menayangkan sinetron, RUU Anti Pornografi udah di buat, walaupun belum terealisasi. Kenapa nggak sekalian bikin larangan untuk menayangkan sinetron di teve yang udah jelas-jelas ngga ngasih pelajaran apapun buat penontonnya. *kalau ada pelajaran yang bisa diambil tolong kasih tau gw lewat sms ke no 08569005973, atau lewat blog ini juga boleh*.
Kembali ke sinetron, banyak efek negatif yang disebabkan sinema elektronik itu. Salah satunya banyak “Bintang-bintang” baru yang masih dibawah umur, bahkan masih bayi. Mungkin karena iming-iming materi yang melimpah orang tua si “bintang” tersebut mengizinkan anaknya untuk diperbudak orang-orang kapitalis pembuat sinetron. Si orang tua nggak perduli dengan anak-anak yang harusnya masih bersenang-senang di dunia mereka yang sederhana, malah di jadikan “barang dagangan” demi kepuasan dirinya sendiri. Mereka mengambil keuntungan dari makhluk kecil yang belum tau apa-apa. Kalau ada pertanyaan untuk mereka *orang tua* yang berbunyi “Nggak kasihan pak/bu sama anaknya? Mungkin mereka kecapean…dst. Jawabanya kurang lebih “ Kami ingin menerapkan kebiasaan bekerja keras sejak mereka masih kecil, toh anak kami juga merasa senang bla bla bla…”. Ya iyalah mereka bersenang-senang namanya juga anak kecil, isi pikirannya cuma 3 hal bermain, bermain, dan bermain dalam hal & kegiatan apapun. Apalagi mereka diracun dengan kata-kata yang berisi mimpi-mimpi indah *muluk* dari orang tuanya, tergodalah si anak dan terjun ke lembah berkabut yang di sebut sinetron. Padahal sebelum mereka menikmati mimpi indah itu *anak atau orang tuanya yang menikmati?* mereka harus melakukan permintaan *perintah yang diperhalus* sang sutradara, ngga perduli panas, hujan, kena angin malam, bahaya di jalan, etc. Singkatnya mereka mengerjakan hal yang seharusnya belum mereka lakukan *bisa disebut diperbudak nggak sih? atau eksploitasi anak? berapa banyak waktu yang terbuang di masa kecil? bisa dibenarkan nggak? terus yang salah siapa? * Pikir aja sendiri.
Disukai atau tidak, diakui, tidak diakui sinetron sudah menjadi tontonan wajib di Negara kita (khususnya ibu-ibu dan gadis remaja). Para penikmat sinetron itu tersihir oleh produk buatan klan India itu. Mereka memuja pemainnya, menjadikan bahan pembicaraan jalan cerita sinetron dengan sinetron maniak yang lain, mencoba menerapkan kehidupan sinetron dalam kehidupan nyata, dan yang paling parah mereka menjadi artis wannabe. Mending kalo jadi artis *tapi gw kurang setuju pemain sinetron disebut artis*, kalau nggak kesampaian? mereka jadikan anak mereka sendiri sebagai objek menuju keinginan yang tertunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan itu.. Akhirnya.. yaaa kembali lagi ke tulisan diatas.
Contoh lain …
Ada seorang ibu muda yang ingin sekali masuk teve *bukan masuk ke dalam teve lewat layar atau buka tutup belakangnya yah*, kaya dan terkenal seperti para pemain sinetron itu. Tapi karena kurangnya modal dan bakat akhirnya dia bekerja dikantor kelurahan di daerah tempat tinggalnya. Sekarang ibu muda itu punya anak, masih bayi, belum genap setahun. Si bayi selalu diajak nonton sinetron bareng atau melototin reality show nggak jelas yang sedang menjadi tren di stasiun teve Indo. Sambil nonton si ibu muda berkata “nanti kalau ade sudah gede, ikutan ‘acara’ itu yah. Belajar nyanyi sama akting, terus nanti ade maen sinetron kaya tante eva *saudara suaminya yang jadi pemain sinetron beneran*. Kaya baim *anak kecil korban keinginan orang tua juga sepertinya*. Nanti ade terkenal, ayah sama ibu juga ikut senang”. *jelaskan senang!!*.
Jijik banget gw denger omongan kaya gitu *terpaksa denger karena deket sama gw, terpaksa deket karena harus, harus karena gw kenal ibu muda itu*
Apa jadinya kalau si ibu muda tersebut benar-benar memaksakan kehendak sama anaknya nanti? Atau sekarang ini anak nggak punya hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri sehingga harus mengorbankan masa indah mereka demi mengejar keinginan orang tua?.
Mungkin kejadian seperti itu tidak akan ada kalau tidak ada sinetron, tidak ada acara-acara yang mementingkan keuntungan sang pemilik PH & pembuatnya saja. Tidak akan ada anak yang harus bekerja di saat mereka harusnya masih bermain kalau pihak yang berwenang lebih perduli terhadap masa depan masyarakat luas bukan isi kantong, perut, rumah & keinginan mereka saja. Mungkin…
“ Ada kuis ni di radio, pertanyaanya, setuju ngga sama program yustisi di Jakarta?atau punya cara lain?” *maaf kalo nggak lengkap*
Gw bales “Program yustisi itu apa?”
Dia jawab “ Operasi KTP untuk mengurangi pendatang gelap di Jakarta. Jadi yang nggak punya KTP sama pekerjaan dipulangin kekampungnya”
“SETUJU!!” Gw bales lagi.
Percakapan lewat sms itu terus berlanjut sampai keluar makian buat bangsa sendiri. Gara-garanya gw bilang orang-orang yang datang ke Jakarta itu ngga pernah nonton teve. Temen gw bales, mereka nonton tapi ngga nonton berita, nontonnya sinetron. Gw bales lagi pemerintah harusnya bikin RUU larangan menayangkan sinetron, RUU Anti Pornografi udah di buat, walaupun belum terealisasi. Kenapa nggak sekalian bikin larangan untuk menayangkan sinetron di teve yang udah jelas-jelas ngga ngasih pelajaran apapun buat penontonnya. *kalau ada pelajaran yang bisa diambil tolong kasih tau gw lewat sms ke no 08569005973, atau lewat blog ini juga boleh*.
Kembali ke sinetron, banyak efek negatif yang disebabkan sinema elektronik itu. Salah satunya banyak “Bintang-bintang” baru yang masih dibawah umur, bahkan masih bayi. Mungkin karena iming-iming materi yang melimpah orang tua si “bintang” tersebut mengizinkan anaknya untuk diperbudak orang-orang kapitalis pembuat sinetron. Si orang tua nggak perduli dengan anak-anak yang harusnya masih bersenang-senang di dunia mereka yang sederhana, malah di jadikan “barang dagangan” demi kepuasan dirinya sendiri. Mereka mengambil keuntungan dari makhluk kecil yang belum tau apa-apa. Kalau ada pertanyaan untuk mereka *orang tua* yang berbunyi “Nggak kasihan pak/bu sama anaknya? Mungkin mereka kecapean…dst. Jawabanya kurang lebih “ Kami ingin menerapkan kebiasaan bekerja keras sejak mereka masih kecil, toh anak kami juga merasa senang bla bla bla…”. Ya iyalah mereka bersenang-senang namanya juga anak kecil, isi pikirannya cuma 3 hal bermain, bermain, dan bermain dalam hal & kegiatan apapun. Apalagi mereka diracun dengan kata-kata yang berisi mimpi-mimpi indah *muluk* dari orang tuanya, tergodalah si anak dan terjun ke lembah berkabut yang di sebut sinetron. Padahal sebelum mereka menikmati mimpi indah itu *anak atau orang tuanya yang menikmati?* mereka harus melakukan permintaan *perintah yang diperhalus* sang sutradara, ngga perduli panas, hujan, kena angin malam, bahaya di jalan, etc. Singkatnya mereka mengerjakan hal yang seharusnya belum mereka lakukan *bisa disebut diperbudak nggak sih? atau eksploitasi anak? berapa banyak waktu yang terbuang di masa kecil? bisa dibenarkan nggak? terus yang salah siapa? * Pikir aja sendiri.
Disukai atau tidak, diakui, tidak diakui sinetron sudah menjadi tontonan wajib di Negara kita (khususnya ibu-ibu dan gadis remaja). Para penikmat sinetron itu tersihir oleh produk buatan klan India itu. Mereka memuja pemainnya, menjadikan bahan pembicaraan jalan cerita sinetron dengan sinetron maniak yang lain, mencoba menerapkan kehidupan sinetron dalam kehidupan nyata, dan yang paling parah mereka menjadi artis wannabe. Mending kalo jadi artis *tapi gw kurang setuju pemain sinetron disebut artis*, kalau nggak kesampaian? mereka jadikan anak mereka sendiri sebagai objek menuju keinginan yang tertunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan itu.. Akhirnya.. yaaa kembali lagi ke tulisan diatas.
Contoh lain …
Ada seorang ibu muda yang ingin sekali masuk teve *bukan masuk ke dalam teve lewat layar atau buka tutup belakangnya yah*, kaya dan terkenal seperti para pemain sinetron itu. Tapi karena kurangnya modal dan bakat akhirnya dia bekerja dikantor kelurahan di daerah tempat tinggalnya. Sekarang ibu muda itu punya anak, masih bayi, belum genap setahun. Si bayi selalu diajak nonton sinetron bareng atau melototin reality show nggak jelas yang sedang menjadi tren di stasiun teve Indo. Sambil nonton si ibu muda berkata “nanti kalau ade sudah gede, ikutan ‘acara’ itu yah. Belajar nyanyi sama akting, terus nanti ade maen sinetron kaya tante eva *saudara suaminya yang jadi pemain sinetron beneran*. Kaya baim *anak kecil korban keinginan orang tua juga sepertinya*. Nanti ade terkenal, ayah sama ibu juga ikut senang”. *jelaskan senang!!*.
Jijik banget gw denger omongan kaya gitu *terpaksa denger karena deket sama gw, terpaksa deket karena harus, harus karena gw kenal ibu muda itu*
Apa jadinya kalau si ibu muda tersebut benar-benar memaksakan kehendak sama anaknya nanti? Atau sekarang ini anak nggak punya hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri sehingga harus mengorbankan masa indah mereka demi mengejar keinginan orang tua?.
Mungkin kejadian seperti itu tidak akan ada kalau tidak ada sinetron, tidak ada acara-acara yang mementingkan keuntungan sang pemilik PH & pembuatnya saja. Tidak akan ada anak yang harus bekerja di saat mereka harusnya masih bermain kalau pihak yang berwenang lebih perduli terhadap masa depan masyarakat luas bukan isi kantong, perut, rumah & keinginan mereka saja. Mungkin…
Cerita Kita
Gw masih inget pertama kali ‘keluar’ dari rumah, jam 7 pagi udah sampe kampus, langsung ke radio. Kampus masih sepi sangat, lagi dengerin musik eron datang. Terus dia nanya
“Ngapain lo pagi-pagi disini?”
Gw jawab dengan pertanyaan
“Nah lo ngapain?”
“Gw lagi males di rumah”
“Sama dong..”
Curhatlah kita dengan di iringi musik di radio sastra yang beberapa waktu kemudian di bongkar sama struktural keparat karena dianggap jadi sarang ‘kejahatan’. Sekarang jadi kantin punya mantan dekan katanya.
Inget nggak lo?
Gw masih inget sore harinya waktu anak-anak udah pulang. Lo nanya ron
“Tidur dimana kita?”
“Nggak tau”. Kata gw
Ternyata di denger si andri sang senior
“Nggak pada pulang lo berdua?” kata andri
“Nggak” lo jawab ron.
“Ya udah tidur di kosan gw aja”
Akhirnya kita berdua dibawa ke kosan andri, tapi nggak tidur di sana. “Sempit” kata andri *aneh*. Di bawalah kita ke kosan badri & bembem. Kita menetap disana sampe beberapa bulan
Masih inget nggak lo?
Gw masih inget waktu ngumpulin anak-anak angkatan kita di ruang berapa itu yah? Pokoknya sekarang jadi Lab Kesenian. Gara-gara kita ngeliat kamar mandi cowok yang nggak ada kuncinya kita berniat untuk demo *sok tau banget, padahal masih semester awal* hehe. Waktu eron orasi di depan anak-anak itu gw buka pintu untuk ngeliat keadaan, ternyata PD III lagi ngintip di pintu. Hahahahaha… untung kita nggak di apa-apain.
Masih inget nggak lo semua?
Gw masih inget pertama kali kita bikin acara karena di suruh *atau dikerjain* sama senior radio. Dikasih modal 25 ribu perak. Rapatlah kita dan tercetus untuk menggelar acara akustik. Alatnya? Karena dana nggak memungkinkan kita pinjem kesana sini, anehnya orang-orang itu ngasih pinjem. Si jay sampe muntah-muntah gara-gara kecapean. Tapi acara sukses hahahahahaha….
Masih inget nggak lo semua?
Gw masih inget waktu gw jalan kaki dari kampus terus keliling kebun raya sampe ke rumah gw di ciapus. Di tengah jalan gw marahin bonzat karena ngikutin, padahal dia khawatir sama gw. Maafnya zat…. Semua gara-gara gw putus sama upik. Goblok!!! Hahahaha..
Masih inget nggak lo?
Gw masih inget waktu bulan puasa dikosan, 3 kali puasa yah kita disana. Kita jarang tidur kecuali rohman sama adhit yang jarang nginep kalo lagi puasa.
Jam 2 pagi kita nonton Vincent & desta. Setengah 3 sahur di warung depan kosan, kalo nggak masak Indomie pake kompor totem. Jam 5 baru tidur. Paginya, kita ke kampus. Totem masih tidur, bangunnya nanti jam 5 sore. Kata Adhit “Enak banget lo tem, puasa Cuma 1 jam…”
Udah deket waktu magrib yang punya duit sibuk beli makanan, yang nggak punya duit sibuk nebeng ke yang punya duit. Terus kita buka puasa bareng, rame banget. Malemnya maen remi sampe waktu sahur, kadang kita suka di tegur RT setempat karena terlalu berisik. Hehehe
Masih inget nggak lo semua?
Gw masih inget anwar yang selalu diperintah untuk bikin kopi, kalo dia nolak, kita teriak “Senior nih!!”, anwarpun melaksanakan tugasnya dengan terpaksa dan menggerutu. Hahahahaha. Ada lagi eko yang bete sama mitra, gw selek sama adhit sampe berbulan-bulan *pengalaman paling nggak enak seumur hidup gw*. Totem baker jaket sama sepatu yang masih bagus karena marah sama seseorang. Isal juga pernah mental sebentar.
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu tsunami di aceh, kita ngecrek di jalan, dari tajur sampe cibinong. Sehari kita bias dapet 10 juta lebih. Rohman bilang “Enak banget kerja begini”. Hampir seminggu kita di jalan, kulit kebakar sampe merah terus item. Tapi nggak ada yang ngeluh, cewe-cewenya pun asik-asik aja. Dari hasil ngecrek kita dapet lebih dari 50 juta, tapi kecewa waktu denger berita yang dikirim lewat metro tv cuma 11 jutaan. Sisanya kemana?! Dan kenapa bukan salah satu dari kita yang berangkat, malah dari himpunan. Marahlah kita, apalagi mitra.
Masih inget nggak?
Gw masih inget slogan kita dulu
“MENGGANTUNGKAN HIDUP PADA ACARA”
Masih inget nggak?
Gw masih inget kata-kata isal
“Anak-anak tiap hari begadang, tidur di lantai, malah ada yang di teras kosan karena di dalam penuh, makan nggak teratur. jarang malah, tapi ko nggak ada yang mati yah?”
Hahahahaha isal..isal..
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu acara basket kita tidur di sastra 2 minggu penuh. Nggak ada kata pulang dan kuliah, yang ada cuma acara, acara, acara.
Malem ke berapa gw lupa, totem minta yang anget-anget *maksudnya bir, arak atau apapun itu* sama bambang. Eh malah dibawain bandrek sama ketua BEM kita itu. Polosnya orang orang itu hahahaha..Terus tengah malam adhit kriting sama uban lari keliling lapangan tanpa berpakaian *Cuma celana dalem doang*, ada yang nyeletuk ‘sindrom acara’.
Masih inget nggak?
Gw masih inget ide-ide totem yang revolusioner. Bikin baliho dari bilik dan cat, bikin kolam di ruang mashudi dan gedung bosbow lengkap dengan air mancurnya, spanduk dari daun kelapa *kepikiran nggak tuh?* dan masih banyak lagi. Sebagian ditiru sama anak MIPA & himpunan, tapi masih kerenan punya kita.
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu mitra di taksir sama a ino yang gay, tapi setelah liat mitra secara live a ino jadi naksir isal..*mitra selamat karena mukanya ancur* hahahaha
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu the glans maen di Jakarta, adhit ngajak gw, mitra, arul & itoy kesana pake mobil irma. Baru sampe tol di depan terminal baranangsiang mobilnya mati. Mitra turun dan dorong mobil sendirian, dia nggak pake baju dan alas kaki. Sambil lari-lari ngejar mobil yang udah jalan dia teriak “Aing kos nu gelo!!!” hahahaha. Nyampe sih ke Jakarta tapi waktu mau pulang mobilnya mogok lagi, ternyata akinya harus ganti, karena udah malem kita terpaksa nunggu sampe matahari muncul. Tidurlah di pinggir jalan yang banyak nyamuk & baunya minta ampun. Cuma mitra yang tidur dengan nyenyak, dasar badak!!
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu nganterin wenti pake mobil fakultas yang kita pinjem untuk acara. Waktu itu gw yang bawa, semua yang di belakang panik karena gw belum bisa bawa mobil. Banyak celetukan yang gw denger,
“Ati-ati cong”
“Santai we”
“Berdoa dulu”
“Gw percaya ma lo”
“Awas-awas”
“Setan”
“Anjing”
“Liat Kanan kiri”
“Woyyy”
“Astagfirullah”
“Hampir-hampir”
“Alhamdulillah ya Allah”
Hahahahaha goblok!! Cuma mitra doang yang keliatan santai, tapi kayanya dia juga takut soalnya banyak diem.
Masih inget nggak?
Gw masih inget cerita kekonyolan adhit, cerita waktu dia parkirin sepeda kumbangnya di meja guru sampe akhirnya di skors dan pindah sekolah. Adhit waktu cengin bu tami sampe si ibu kesel tapi akhirnya ketawa, adhit yang turun dari motor waktu berhenti karena lampu merah di deket SMA I, lalu dia berolah raga ria. Pemakai kendaraan lain pada ngeliatin, gw cuma senyam-senyum teu puguh. Adhit yang cengin polisi. Adhit yang banyak di benci sekaligus di kangenin orang-orang. Adhit yang jago moto, Adhit yang nggak ada matinya.
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu kita nengokin mamay di PMI. Papan nama yang ada di tempat tidur pasien di coret-coret sama adhit, nama dokternya diganti jadi nama dia. Kita nggak bawa apa-apa, malah makan makanan si mamay yang lagi sakit. Isi kulkasnya di kuras, sebagian di bawa pulang sama kita. Ancur, nggak punya malu hahahaha
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu wenti sakit dan dirawat di azra. Adhit bilang “Susah kalo orang kaya, dehidrasi doang sampe dirawat di kelas I”.
Di azra gw ma adhit maenin kursi roda, gw duduk di kursi itu terus di dorong sama adhit sampe ujung lorong, terus gantian sampe dimarahin satpam. Nggak ada dewasa-dewasnya hahahaha. Tambah lagi adhit ‘mengoreksi’ peraturan yang ada di pintu kamar dan ditambahin beberapa poin sama dia. Ancur!!! Terus kita foto-foto di kamar mandi yang menurut kita bagus. Hahahaha…
Masih inget nggak lo?
Gw masih inget hobi kita dulu, nginep di RS. Kalo ada temen atau keluarganya yang sakit adhit kalo ngga rohman telfon gw “Cong, ada proyek nih” hahahaha. Mitra kita ajakin nginep di ‘Hotel’ gratis itu & diapun ketagihan. Malah, nggak ada orang sakitpun gw sama mitra suka tidur di rumah sakit. Seru!!!
Masih inget ngak?
Gw masih inget waktu kita tidur di auditorium karena ada acara. Pagi-pagi kita ngopi di sastra terus mitra datang sambil ngomel karena ditinggalin sendirian di audit dan waktu melek dia dikelilingin ibu-ibu yang lagi senam, dia bilang “Anjing lo semua!”. Kita ngakak doang. Hahahahaha…
Masih Inget nggak?
Lo semua emang goblok, bego, nggak sekolah, baik hati, nggak punya malu, nggak punya otak, tapi gw cinta. Masih banyak hal lain yang gw inget, tapi nggak akan cukup dituangkan disini *sebenernya cukup, gw nya aja cape!!*.
Tolong jangan ada yang protes setelah membaca tulisan ini. Tolong jangan ada kata-kata “Ah masa lalu masih di inget-inget aja bla bla bla…”.
Terserah gw dong!! Ini romantisme gw yang tidak akan gw tuker sama apapun di dunia yang ada sekarang. Ini memoar masa jaya gw sama kawan-kawan saudara *aneh kan tuh bahasanya* gw di sastra pakuan bogor. Kalo masih ada yang protes atau nggak suka atau berpikiran gw orang yang stuck di masa lalu dan nggak mikir ke depan, akan gw anggap orang itu nggak punya masa lalu yang indah karena nggak punya temen, nggak seperti gw yang kaya akan temen & orang yang sirik/iri hati sama gw.
Biarlah Allah yang membalasnya. Aminn…
Semua ini untuk adhit, untuk rohman, untuk mitra, untuk totem, untuk isal, untuk eko, untuk arul, untuk itoy, untuk ardi, untuk eron, untuk adit kriting, untuk uban, untuk bambang, untuk idon, untuk anwar, untuk bonzat, untuk wenti, untuk mia, untuk rina, untuk sastra, untuk radio beserta penghuninya, untuk bem, untuk kampus pakuan, untuk kosan aira, untuk bogor, untuk semua yang merasa.
“Ngapain lo pagi-pagi disini?”
Gw jawab dengan pertanyaan
“Nah lo ngapain?”
“Gw lagi males di rumah”
“Sama dong..”
Curhatlah kita dengan di iringi musik di radio sastra yang beberapa waktu kemudian di bongkar sama struktural keparat karena dianggap jadi sarang ‘kejahatan’. Sekarang jadi kantin punya mantan dekan katanya.
Inget nggak lo?
Gw masih inget sore harinya waktu anak-anak udah pulang. Lo nanya ron
“Tidur dimana kita?”
“Nggak tau”. Kata gw
Ternyata di denger si andri sang senior
“Nggak pada pulang lo berdua?” kata andri
“Nggak” lo jawab ron.
“Ya udah tidur di kosan gw aja”
Akhirnya kita berdua dibawa ke kosan andri, tapi nggak tidur di sana. “Sempit” kata andri *aneh*. Di bawalah kita ke kosan badri & bembem. Kita menetap disana sampe beberapa bulan
Masih inget nggak lo?
Gw masih inget waktu ngumpulin anak-anak angkatan kita di ruang berapa itu yah? Pokoknya sekarang jadi Lab Kesenian. Gara-gara kita ngeliat kamar mandi cowok yang nggak ada kuncinya kita berniat untuk demo *sok tau banget, padahal masih semester awal* hehe. Waktu eron orasi di depan anak-anak itu gw buka pintu untuk ngeliat keadaan, ternyata PD III lagi ngintip di pintu. Hahahahaha… untung kita nggak di apa-apain.
Masih inget nggak lo semua?
Gw masih inget pertama kali kita bikin acara karena di suruh *atau dikerjain* sama senior radio. Dikasih modal 25 ribu perak. Rapatlah kita dan tercetus untuk menggelar acara akustik. Alatnya? Karena dana nggak memungkinkan kita pinjem kesana sini, anehnya orang-orang itu ngasih pinjem. Si jay sampe muntah-muntah gara-gara kecapean. Tapi acara sukses hahahahahaha….
Masih inget nggak lo semua?
Gw masih inget waktu gw jalan kaki dari kampus terus keliling kebun raya sampe ke rumah gw di ciapus. Di tengah jalan gw marahin bonzat karena ngikutin, padahal dia khawatir sama gw. Maafnya zat…. Semua gara-gara gw putus sama upik. Goblok!!! Hahahaha..
Masih inget nggak lo?
Gw masih inget waktu bulan puasa dikosan, 3 kali puasa yah kita disana. Kita jarang tidur kecuali rohman sama adhit yang jarang nginep kalo lagi puasa.
Jam 2 pagi kita nonton Vincent & desta. Setengah 3 sahur di warung depan kosan, kalo nggak masak Indomie pake kompor totem. Jam 5 baru tidur. Paginya, kita ke kampus. Totem masih tidur, bangunnya nanti jam 5 sore. Kata Adhit “Enak banget lo tem, puasa Cuma 1 jam…”
Udah deket waktu magrib yang punya duit sibuk beli makanan, yang nggak punya duit sibuk nebeng ke yang punya duit. Terus kita buka puasa bareng, rame banget. Malemnya maen remi sampe waktu sahur, kadang kita suka di tegur RT setempat karena terlalu berisik. Hehehe
Masih inget nggak lo semua?
Gw masih inget anwar yang selalu diperintah untuk bikin kopi, kalo dia nolak, kita teriak “Senior nih!!”, anwarpun melaksanakan tugasnya dengan terpaksa dan menggerutu. Hahahahaha. Ada lagi eko yang bete sama mitra, gw selek sama adhit sampe berbulan-bulan *pengalaman paling nggak enak seumur hidup gw*. Totem baker jaket sama sepatu yang masih bagus karena marah sama seseorang. Isal juga pernah mental sebentar.
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu tsunami di aceh, kita ngecrek di jalan, dari tajur sampe cibinong. Sehari kita bias dapet 10 juta lebih. Rohman bilang “Enak banget kerja begini”. Hampir seminggu kita di jalan, kulit kebakar sampe merah terus item. Tapi nggak ada yang ngeluh, cewe-cewenya pun asik-asik aja. Dari hasil ngecrek kita dapet lebih dari 50 juta, tapi kecewa waktu denger berita yang dikirim lewat metro tv cuma 11 jutaan. Sisanya kemana?! Dan kenapa bukan salah satu dari kita yang berangkat, malah dari himpunan. Marahlah kita, apalagi mitra.
Masih inget nggak?
Gw masih inget slogan kita dulu
“MENGGANTUNGKAN HIDUP PADA ACARA”
Masih inget nggak?
Gw masih inget kata-kata isal
“Anak-anak tiap hari begadang, tidur di lantai, malah ada yang di teras kosan karena di dalam penuh, makan nggak teratur. jarang malah, tapi ko nggak ada yang mati yah?”
Hahahahaha isal..isal..
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu acara basket kita tidur di sastra 2 minggu penuh. Nggak ada kata pulang dan kuliah, yang ada cuma acara, acara, acara.
Malem ke berapa gw lupa, totem minta yang anget-anget *maksudnya bir, arak atau apapun itu* sama bambang. Eh malah dibawain bandrek sama ketua BEM kita itu. Polosnya orang orang itu hahahaha..Terus tengah malam adhit kriting sama uban lari keliling lapangan tanpa berpakaian *Cuma celana dalem doang*, ada yang nyeletuk ‘sindrom acara’.
Masih inget nggak?
Gw masih inget ide-ide totem yang revolusioner. Bikin baliho dari bilik dan cat, bikin kolam di ruang mashudi dan gedung bosbow lengkap dengan air mancurnya, spanduk dari daun kelapa *kepikiran nggak tuh?* dan masih banyak lagi. Sebagian ditiru sama anak MIPA & himpunan, tapi masih kerenan punya kita.
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu mitra di taksir sama a ino yang gay, tapi setelah liat mitra secara live a ino jadi naksir isal..*mitra selamat karena mukanya ancur* hahahaha
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu the glans maen di Jakarta, adhit ngajak gw, mitra, arul & itoy kesana pake mobil irma. Baru sampe tol di depan terminal baranangsiang mobilnya mati. Mitra turun dan dorong mobil sendirian, dia nggak pake baju dan alas kaki. Sambil lari-lari ngejar mobil yang udah jalan dia teriak “Aing kos nu gelo!!!” hahahaha. Nyampe sih ke Jakarta tapi waktu mau pulang mobilnya mogok lagi, ternyata akinya harus ganti, karena udah malem kita terpaksa nunggu sampe matahari muncul. Tidurlah di pinggir jalan yang banyak nyamuk & baunya minta ampun. Cuma mitra yang tidur dengan nyenyak, dasar badak!!
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu nganterin wenti pake mobil fakultas yang kita pinjem untuk acara. Waktu itu gw yang bawa, semua yang di belakang panik karena gw belum bisa bawa mobil. Banyak celetukan yang gw denger,
“Ati-ati cong”
“Santai we”
“Berdoa dulu”
“Gw percaya ma lo”
“Awas-awas”
“Setan”
“Anjing”
“Liat Kanan kiri”
“Woyyy”
“Astagfirullah”
“Hampir-hampir”
“Alhamdulillah ya Allah”
Hahahahaha goblok!! Cuma mitra doang yang keliatan santai, tapi kayanya dia juga takut soalnya banyak diem.
Masih inget nggak?
Gw masih inget cerita kekonyolan adhit, cerita waktu dia parkirin sepeda kumbangnya di meja guru sampe akhirnya di skors dan pindah sekolah. Adhit waktu cengin bu tami sampe si ibu kesel tapi akhirnya ketawa, adhit yang turun dari motor waktu berhenti karena lampu merah di deket SMA I, lalu dia berolah raga ria. Pemakai kendaraan lain pada ngeliatin, gw cuma senyam-senyum teu puguh. Adhit yang cengin polisi. Adhit yang banyak di benci sekaligus di kangenin orang-orang. Adhit yang jago moto, Adhit yang nggak ada matinya.
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu kita nengokin mamay di PMI. Papan nama yang ada di tempat tidur pasien di coret-coret sama adhit, nama dokternya diganti jadi nama dia. Kita nggak bawa apa-apa, malah makan makanan si mamay yang lagi sakit. Isi kulkasnya di kuras, sebagian di bawa pulang sama kita. Ancur, nggak punya malu hahahaha
Masih inget nggak?
Gw masih inget waktu wenti sakit dan dirawat di azra. Adhit bilang “Susah kalo orang kaya, dehidrasi doang sampe dirawat di kelas I”.
Di azra gw ma adhit maenin kursi roda, gw duduk di kursi itu terus di dorong sama adhit sampe ujung lorong, terus gantian sampe dimarahin satpam. Nggak ada dewasa-dewasnya hahahaha. Tambah lagi adhit ‘mengoreksi’ peraturan yang ada di pintu kamar dan ditambahin beberapa poin sama dia. Ancur!!! Terus kita foto-foto di kamar mandi yang menurut kita bagus. Hahahaha…
Masih inget nggak lo?
Gw masih inget hobi kita dulu, nginep di RS. Kalo ada temen atau keluarganya yang sakit adhit kalo ngga rohman telfon gw “Cong, ada proyek nih” hahahaha. Mitra kita ajakin nginep di ‘Hotel’ gratis itu & diapun ketagihan. Malah, nggak ada orang sakitpun gw sama mitra suka tidur di rumah sakit. Seru!!!
Masih inget ngak?
Gw masih inget waktu kita tidur di auditorium karena ada acara. Pagi-pagi kita ngopi di sastra terus mitra datang sambil ngomel karena ditinggalin sendirian di audit dan waktu melek dia dikelilingin ibu-ibu yang lagi senam, dia bilang “Anjing lo semua!”. Kita ngakak doang. Hahahahaha…
Masih Inget nggak?
Lo semua emang goblok, bego, nggak sekolah, baik hati, nggak punya malu, nggak punya otak, tapi gw cinta. Masih banyak hal lain yang gw inget, tapi nggak akan cukup dituangkan disini *sebenernya cukup, gw nya aja cape!!*.
Tolong jangan ada yang protes setelah membaca tulisan ini. Tolong jangan ada kata-kata “Ah masa lalu masih di inget-inget aja bla bla bla…”.
Terserah gw dong!! Ini romantisme gw yang tidak akan gw tuker sama apapun di dunia yang ada sekarang. Ini memoar masa jaya gw sama kawan-kawan saudara *aneh kan tuh bahasanya* gw di sastra pakuan bogor. Kalo masih ada yang protes atau nggak suka atau berpikiran gw orang yang stuck di masa lalu dan nggak mikir ke depan, akan gw anggap orang itu nggak punya masa lalu yang indah karena nggak punya temen, nggak seperti gw yang kaya akan temen & orang yang sirik/iri hati sama gw.
Biarlah Allah yang membalasnya. Aminn…
Semua ini untuk adhit, untuk rohman, untuk mitra, untuk totem, untuk isal, untuk eko, untuk arul, untuk itoy, untuk ardi, untuk eron, untuk adit kriting, untuk uban, untuk bambang, untuk idon, untuk anwar, untuk bonzat, untuk wenti, untuk mia, untuk rina, untuk sastra, untuk radio beserta penghuninya, untuk bem, untuk kampus pakuan, untuk kosan aira, untuk bogor, untuk semua yang merasa.
O V I
Ovi adalah jalan yang sangat panjang,
Berkelok kelok bagaikan tanpa batas
Adalah racun yang mengisi kerapuhan
Memabukkan seperti minuman keras
Mematikan saraf dan perasaan
Ovi adalah karma kehidupan
Terkadang menyenangkan,
Seringkali menyakitkan
Ovi adalah ketika pertanyaan dan kesedihan bersatu
Menyapu setiap ruang sempit
Mencari celah untuk menyakiti, menusuk,
Kemudian membunuh secara pelan-pelan
Ovi itu tak kasat mata
Hanya tulisan dan suara
Bermain dalam kepala
Lalu mengiris hati yang sedang terluka
Ovi adalah mahluk malam
Mengganggu tidur seseorang
Adalah binatang haram berkaki empat
Menggeram kepada setiap pengguna jalan
Ovi itu tsunami…
Tetapi…
Ovi adalah cinta,
Mengisi sumsum dengan pikiran ceria
Menggelitik rusuk manusia
Memaksa setiap tetes air mata,
Untuk jatuh lalu dia tersenyum
Ovi dan puisi adalah sama
Rumit…tidak tertebak melayang-layang
Indah adalah pasti
Keutamaan puisi serta ovi
Ovi berkehendak sendiri
Tidak mengenal peraturan atau keluarga
Hanya dirinya dan dunia
Ovi adalah cahaya,
Lentera yang membimbing mata
Membawa raga ke alam suram yang bahagia
Ovi adalah tongkat orang buta
Rumah untuk tuna wisma
Telinga mahluk tuna rungu
Oasis dalam dunia autis
Ovi itu guru bagi umatnya
Ovi tiba-tiba terdiam
Sedetik kemudian dia tertawa
Lepas seakan tak perduli
Rantaipun diputuskannya
Tak ada yang bisa mengikatnya
Ovi adalah penguasa mimpi
Adalah tuan seekor monyet setia
Monyet yang bersedia…
Menunggu sampai waktunya tiba…..
Berkelok kelok bagaikan tanpa batas
Adalah racun yang mengisi kerapuhan
Memabukkan seperti minuman keras
Mematikan saraf dan perasaan
Ovi adalah karma kehidupan
Terkadang menyenangkan,
Seringkali menyakitkan
Ovi adalah ketika pertanyaan dan kesedihan bersatu
Menyapu setiap ruang sempit
Mencari celah untuk menyakiti, menusuk,
Kemudian membunuh secara pelan-pelan
Ovi itu tak kasat mata
Hanya tulisan dan suara
Bermain dalam kepala
Lalu mengiris hati yang sedang terluka
Ovi adalah mahluk malam
Mengganggu tidur seseorang
Adalah binatang haram berkaki empat
Menggeram kepada setiap pengguna jalan
Ovi itu tsunami…
Tetapi…
Ovi adalah cinta,
Mengisi sumsum dengan pikiran ceria
Menggelitik rusuk manusia
Memaksa setiap tetes air mata,
Untuk jatuh lalu dia tersenyum
Ovi dan puisi adalah sama
Rumit…tidak tertebak melayang-layang
Indah adalah pasti
Keutamaan puisi serta ovi
Ovi berkehendak sendiri
Tidak mengenal peraturan atau keluarga
Hanya dirinya dan dunia
Ovi adalah cahaya,
Lentera yang membimbing mata
Membawa raga ke alam suram yang bahagia
Ovi adalah tongkat orang buta
Rumah untuk tuna wisma
Telinga mahluk tuna rungu
Oasis dalam dunia autis
Ovi itu guru bagi umatnya
Ovi tiba-tiba terdiam
Sedetik kemudian dia tertawa
Lepas seakan tak perduli
Rantaipun diputuskannya
Tak ada yang bisa mengikatnya
Ovi adalah penguasa mimpi
Adalah tuan seekor monyet setia
Monyet yang bersedia…
Menunggu sampai waktunya tiba…..
BOGOR!JAKARTA?
Apakah langit kotaku sama dengan langitmu?
Apakah awan hitam kotaku sama dengan awanmu?
Apakah jalan kota ku serumit jalanmu?
Akankah kota ku menyatu dengan kota mu?
Apakah rinduku berbalas rindumu?
Apakah rasaku sama dengan rasamu?
Ataukah semua hanya hayalku?
Apakah awan hitam kotaku sama dengan awanmu?
Apakah jalan kota ku serumit jalanmu?
Akankah kota ku menyatu dengan kota mu?
Apakah rinduku berbalas rindumu?
Apakah rasaku sama dengan rasamu?
Ataukah semua hanya hayalku?
Tuhan Telah Mati
Kalimat yang menjadi judul dari tulisan ini diambil dari sebuah judul lagu milik FORGOTTEN. Kalau dibaca atau didengar secara sepintas, mungkin kalimat itu begitu liar,nakal,brutal,bengal dan radikal serta bisa membuat orang-orang memberikan penilaian negatif kepada individu / kelompok yang mengungkapkan kalimat tersebut. Bahkan mungkin bisa menimbulkan perdebatan yang berakhir dengan kerusuhan.
Tetapi apabila kita hayati, resapi dan telaah kembali secara mendalam dibarengi dengan memperhatikan sekarang, rasanya kalimat yang diserukan sekelompok anak muda dari bandung itu tidaklah berlebihan.
Di zaman *yang dibilang edan oleh sebagian besar orang* ini sudah tidak terhitung manusia yang melupakan penciptanya. Kita manusia, lebih tertarik dengan hal atau benda baru yang diciptakan manusia sendiri dan akhirnya kita mendewakan hal dan benda-benda yang bisa dibilang semu tersebut.
Kenapa bisa ada orang yang memuja & mendewakan benda seperti komputer, hand phone, kendaraan canggih, majalah atau manusia yang menciptakan itu semua?
Apakah karena dimata kita sebagai makhluk yang mempunyai nafsu, ego dan pikiran canggih benda-benda tersebut lebih menarik karena bisa menghibur, bervariasi atau karena kita berpikir bahwa benda-benda serta penciptanya itu nyata sedangkan Tuhan tak kasat mata? Mungkin juga.
Tapi, apakah ciptaan-ciptaan Tuhan yang begitu “besar”, indah dan berlimpah tidak terlihat, tidak terasa? Atau kita manusia sudah mati rasa? Tidak ada yang tahu, atau malah kita tahu tapi pura-pura tidak tahu?
Hmmmm…membicarakan masalah seperti ini tidak akan pernah ada habisnya. Satu hal yang pasti, Tuhan itu ada dan tidak akan pernah mati!!.
TUHAN TELAH MATI
by : FORGOTTEN
Hilang sudah logika
Terbakar oleh dusta
Mereka hina dan nista
Terjerat oleh dunia
Mati Logika, putuslah asa, sembah dunia
Kotor media, racuni jiwa, halalkan dosa
Tuhan telah mati (4x)
Mati Logika, putuslah asa, sembah dunia
Persetan semua ajarannya
Jadikan nyata hancurkan dosa
Hiduplah dengan rakusnya dunia
Habiskan semua sampah logika
Tuhan telah mati (4x)
Hilang sudah logika
Terbakar oleh dusta
Mereka hina dan nista
Terjerat oleh dunia
Tetapi apabila kita hayati, resapi dan telaah kembali secara mendalam dibarengi dengan memperhatikan sekarang, rasanya kalimat yang diserukan sekelompok anak muda dari bandung itu tidaklah berlebihan.
Di zaman *yang dibilang edan oleh sebagian besar orang* ini sudah tidak terhitung manusia yang melupakan penciptanya. Kita manusia, lebih tertarik dengan hal atau benda baru yang diciptakan manusia sendiri dan akhirnya kita mendewakan hal dan benda-benda yang bisa dibilang semu tersebut.
Kenapa bisa ada orang yang memuja & mendewakan benda seperti komputer, hand phone, kendaraan canggih, majalah atau manusia yang menciptakan itu semua?
Apakah karena dimata kita sebagai makhluk yang mempunyai nafsu, ego dan pikiran canggih benda-benda tersebut lebih menarik karena bisa menghibur, bervariasi atau karena kita berpikir bahwa benda-benda serta penciptanya itu nyata sedangkan Tuhan tak kasat mata? Mungkin juga.
Tapi, apakah ciptaan-ciptaan Tuhan yang begitu “besar”, indah dan berlimpah tidak terlihat, tidak terasa? Atau kita manusia sudah mati rasa? Tidak ada yang tahu, atau malah kita tahu tapi pura-pura tidak tahu?
Hmmmm…membicarakan masalah seperti ini tidak akan pernah ada habisnya. Satu hal yang pasti, Tuhan itu ada dan tidak akan pernah mati!!.
TUHAN TELAH MATI
by : FORGOTTEN
Hilang sudah logika
Terbakar oleh dusta
Mereka hina dan nista
Terjerat oleh dunia
Mati Logika, putuslah asa, sembah dunia
Kotor media, racuni jiwa, halalkan dosa
Tuhan telah mati (4x)
Mati Logika, putuslah asa, sembah dunia
Persetan semua ajarannya
Jadikan nyata hancurkan dosa
Hiduplah dengan rakusnya dunia
Habiskan semua sampah logika
Tuhan telah mati (4x)
Hilang sudah logika
Terbakar oleh dusta
Mereka hina dan nista
Terjerat oleh dunia
Langganan:
Postingan (Atom)