Selasa, 16 September 2014

Ini Kehidupan




Mereka berdiri
Mematung mengelilingi wajah kembar berjiwa satu
Berbisik, berkata bahkan berteriak
Menyerukan godaan, ancaman serta perlindungan
Wajah kembarpun membisu
Gaung suara-suara terus memburu
Mengetuk kasar alam bawah sadar
Seakan ingin mengeluarkan isi tubuh
Menguras segenap energi
Wajah kembar berputar
Lalu berjalan menghampiri cahaya yang mulai redup dilindas waktu

Tafsir Quote Pidi


Sudah lama tidak menyapa kata, mengasah pikiran lewat tulisan, blog sayapun teronggok di pinggiran halaman titikblog. Saya begitu sibuk dengan kesantaian sehingga keisengan saya yang lain terabaikan untuk sementara waktu. 

Well here i am now try to spill something on a note. 
 
Saat ini, untuk kedua kalinya saya ingin membahas sang manusia super H. Pidi Baiq. Dalam tulisan pertama (Pidiesme) saya menilai seorang Pidi Baiq dari bentuk luarnya. Sekarang, saya akan mencoba mengkaji bagian dalam manusia yang sampai detik ini masih menginspirasi banyak orang. Bukti paling real bahwa beliau menginspirasi orang lain datang dari sahabat saya sendiri, sebut saja Mitra Kencana Purba.  Mitra bersama istrinya yang biasa dipanggil Sinta begitu mengidolakan pidi baiq dan teh rosi sampai pasangan ini mengaplikasikan apa yang dilakukan surayah suribu dalam kehidupan pribadi mereka, hal positif dan normal tentunya. Kalau dalam hal kelakuan diluar nalar hanya orang berwawasan luas, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, menguasai psikologis lingkungan dan manusianya, serta mempunyai keberanian yang datang dari rasa peduli sesama seperti pidi baiq saja yang bisa melakukan.

Setelah seringkali berkomunikasi dengan Pidi Baiq baik dua arah ataupun satu arah dengan membaca tulisan-tulisannya, saya bisa menyimpulkan pidi adalah manusia super kacau, cerdas, senang berbagi, rendah hati, baik hati, dan rajin shalat (mungkin mudah-mudahan). Semua itu bisa dibuktikan dengan membaca karya yang katanya berdasarkan kisah nyata atau dilihat dari kesehariannya secara langsung. Tapi saya rasa tanpa dijelaskanpun, sepuluh ribu orang yang mengenalnya paham akan hal itu.

Sebelum tergerak menulis tentang mantan pengajar filsafat seni di Villa Merah untuk kali kedua, terlebih dahulu saya harus bertemu dengan orang lain yang hampir sejalan dengan beliau, terutama mengenai pola pikir dan keyakinan yang mendasari kehidupan manusia secara umum. Orang-orang yang intens berkomunikasi dengan saya saat ini adalah manusia biasa secara status sosial, namun tidak biasa dalam hal pemikiran terutama tentang kehidupan, baik yang nyata secara visual maupun yang hanya bisa terasa secara spiritual (hakekat).

Pidi Baiq termasuk penulis produktif, beliau sudah menciptakan banyak karya berupa buku dan lagu. Ratusan quote yang terinspirasi dari apa saja yang beliau lihat, rasa, atau alami mudah ditemukan di internet. Dulu pidi seorang pengguna setia multiply, tapi karena multiply sudah berubah haluan menjadi e-commerce maka bermigrasilah beliau ke  ayahpidibaiq.blogspot.com. 

Sama seperti karyanya yang lain, quote-quote hasil pemikiran pidi lucu bahkan kadang absurd lalu bergerak radikal melawan mainstream. Untuk penganut pemula sekte pidi baiq mungkin akan berhenti ditahapan lucu kemudian tertawa terbahak-bahak dan akhirnya Pipidieun. Tapi bagi mereka yang sudah ‘mengerti’ pidi, akan mengkaji segala sesuatu yang keluar dari pemikirannya. Dan inilah yang akan saya coba lakukan, mereview beberapa quote beliau lalu secara sok tahu akan menafsirkannya, tafsiran versi saya pribadi tentunya. Tapi sebelum menyimak apa yang akan saya bahas, sebaiknya letakkan dulu seragam kehidupan sosial, tekan ego kesukuan, juga kendalikan fanatisme keagamaan agar semuanya berjalan tertib, aman, dan lancar. Lebih dari itu saya ingin minta maaf kepada H. Pidi Baiq bila dalam tulisan ini terdapat banyak kealpaan.

Dan mari kita mulai…

  1. Bahkan seorang pemabuk adalah guru bagiku, ketika dia teler dan nyungsep di comberan, dia mengajarkan aku untuk jangan jadi pemabuk.
Mungkin apa yang pidi coba sampaikan melalui quote ini adalah manusia harus terbiasa mengosongkan hati sehingga bisa mendapatkan ilmu atau pelajaran dari sesuatu yang tak terduga. Quote pertama ini menunjukkan bahwa pidi baiq adalah orang yang terbuka, tidak membeda-bedakan manusia dari tampilan luarnya saja. Selain itu beliau juga tidak menganggap sesuatu yang keluar dari orang yang dalam keadaan tidak biasa adalah hal biasa, meskipun secara kasat mata orang itu berkelakuan negatif. Hal ini mungkin didasari pemahaman mendalam beliau tentang ilmu bisa didapatkan dari mana saja dan siapa saja. Manusia yang bersih pikiran, badan, dan hatinya akan mendengarkan nasihat positif dari siapa saja. Kadang ego manusia mengatakan “kenapa saya harus melakukan kata-kata seorang pemabuk”, padahal yang harus diperhatikan adalah kata-katanya bukan orangnya. Tidak menutup kemungkinan hal positif  berasal dari raga negatif. Manusianya salah belum tentu  perkataanya juga salah. Tidak jauh berbeda pengertiannya dengan kita sebagai manusia yang bisa menasehati orang lain padahal sebenarnya kita juga belum mampu melakukannya. Apakah salah? Saya rasa tidak karena selama hidupnya manusia tidak akan pernah berhenti belajar, hanya masalah waktu saja sampai kita sendiri mengerti dan bisa. “Pemabuk bisa nyungsep di comberan”, itu hal negatif yang bisa menjadi bahan pelajaran.

  1. Kewarganegaraan adalah urusan administrasi, guru adalah status administrasi, suami atau istri adalah status administrasi yang mempunyai hak dan kewajiban. Kadang manusia melupakan manusianya sendiri.
Pidi pernah berkata “Kalau saya bermain terus dalam tataran status, maka setiap hari  saya akan bertengkar dengan istri saya karena dia Unpad dan saya ITB, dia istri dan saya suami sang kepala rumah tangga”. Kalau manusia selalu ingat akan siapa dirinya maka tidak akan ada disparitas gender apalagi membeda-bedakan satu manusia dengan yang lain. Bukankah kehidupan akan lebih terasa bermakna apabila manusia saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Kaya/miskin, direktur/office boy, pejabat/ masyarakat adalah status administrasi dan semuanya adalah manusia yang pada awal diciptakan Tuhan berada dalam strata yang sama. Manusia sendiri yang membeda-bedakan dirinya, bukan Tuhan.  Bukankah quote ini menandakan seseorang yang selalu ingat bahwa dirinya adalah manusia dan itu tidak mudah.

  1. Bukan kampusnya yang harus kau junjung tapi ilmu pengetahuannya yang harus kau sampaikan. Bukan Islamnya yang harus jaya tapi tujuan diturunkannya agama itu yang harus kau sebarkan. Apabila seseorang menjelekkan agama lain maka sama saja menghina agamanya sendiri.
Quote ketiga ini harus dicerna dan dipahami dengan baik, karena kalau tidak yang pertama kali muncul adalah sentimen negatif yang berasal dari suudzon atau pikiran jahat yang belum tentu benar. Melalui perkataanya ini Pidi Baiq bisa dituduh sebagai seorang pluralis atau liberalis. Karena itu diawal saya katakan lepaskan dulu seragam kehidupan sosial, tekan ego kesukuan, serta kendalikan fanatisme keagamaan. Pidi baiq adalah manusia berpendidikan dan beragama, karena itu saya yakin beliau tidak akan asal mengucap sesuatu tanpa dasar pemahaman yang kuat. Berdasarkan keterangan yang saya ketahui, semua agama yang diturunkan Tuhan adalah benar dan seorang muslim biasanya meyakini bahwa Islam merupakan penyempurna. Jika sudah mendalami hal ini maka pemikiran negatif atau sifat egosentris dan cauvinisme akan tergerus dengan sendirinya. Sebagai manusia, menjalani hidup akan terasa lebih ringan apabila dituntun/dibawa oleh ilmu dan ilmu tersebut adalah agama. Cara terbaik untuk membuat sesuatu menjadi besar adalah dengan membuat orang paham dengan apa yang akan didapatkan apabila menggunakan sesuatu tersebut dengan benar. Tidak perlu berteriak bahwa kita merupakan pembela agama tertentu karena bukankah yang seharusnya terjadi adalah agama yang membela, menuntun, dan mengajari kita. Dan hal ini harus didasari terlebih dahulu oleh pemahaman yang kuat, dalam, serta tidak setengah-setengah. Pidi Baiq seorang muslim dan saya rasa beliau adalah orang yang sudah “MENGERTI”.  “Justru kalau agamamu kuat, kau akan menghormati agama orang lain” (PB).

  1. Jika kalian benar maka jangan merasa paling benar. Dan jika aku salah akupun tidak akan merasa paling salah.
Permainan kata yang menarik dan penuh makna. Secara sepintas saja sudah bisa disimpulkan bahwa quote ini benar, terutama dalam etika bersosialisasi. Kita sebagai manusia tidak berhak menuduh orang lain salah atau menganggap diri sendiri benar ataupun sebaliknya. Benar dan salah adalah kepunyaan Allah, menentukan sesuatu benar atau salah adalah hak preyogatif Allah. Manusia memang berkewajiban mengingatkan orang lain apabila sifat dan sikap orang itu merugikan sesama mahluk tapi tidak untuk  menyalahkan. Walaupun  ada aturan yang bernama hukum memperbolehkan seseorang memutuskan bersalah atau tidaknya seseorang. Tetap saja harus diperhatikan hukum mana yang benar-benar adil, hukum produk manusia atau ketentuan Tuhan yang diturunkan melalui agama, nabi dan rasul, serta kitab suci?. Tapi lagi-lagi pemahaman yang dangkal akan berakibat fatal karena pengertian orang yang mengerti tipis saja jaraknya dengan humanis, pluralis, atau liberalis, tipis tapi sangat jauh berbeda dari segi memahami sesuatu. 

  1. Aku tahu aku tidak dapat mengubah kehidupan, tapi mungkin aku bisa mengubah cara pandangku terhadap kehidupan.
Dalam hidup, progress dari kualitas kehidupan dan kepribadian seorang manusia ditentukan oleh dua hal, yaitu faktor eksternal dan internal. Mengacu pada quote ke lima ini, manusia tidak akan pernah bisa mengubah sesuatu diluar dirinya tanpa mengubah dirinya sendiri. Faktor eksternal tidak bisa kita paksakan untuk menjadi sesuai dengan maksud dan tujuan kita, tapi faktor internal bisa kita kontrol dan rubah arahnya guna meningkatkan kualitas diri dan menarik faktor eksternal agar bisa sejalan dengan apa yang diinginkan. Quote ini berkaitan dengan salah satu perkataan pidi yang lain yaitu “Manusia selalu menganggap sesuatu diluar dirinya lebih besar sehingga dikontrol oleh hal itu”. Padahal Tuhan berada dekat sekali dengan manusia, tetapi sering diabaikan sehingga menimbulkan mindset bahwa kita (manusia) lebih kecil dari hal yang ada diluar diri.

  1. Di saat kunikmati, hidup ini indah. Dan langsung pusing ketika mulai kupikirkan
Orang-orang muda jaman dulu yang sekarang sudah menjadi tua pernah mengatakan bahwa hidup harus dijalani bukan dipikirkan. Dengan kata lain yang lebih keren do more and talk less. Analoginya, anggaplah hidup ini sebuah pekerjaan, bila hanya dipikirkan dan tidak dilakukan maka pekerjaan tersebut tidak akan pernah selesai, sekecil apapun bentuknya. Bila terus dipikirkan maka yang muncul hanya keraguan dan sifat malas untuk mengerjakan. Tapi bila pekerjaan itu dinikmati dan dijalankan maka waktu seakan bergerak lebih cepat dan pekerjaanpun selesai dengan hasil memuaskan, dan itulah cara terbaik menjalani kehidupan. 

  1. Terus terang, kalau aku pulang, tempatnya di atas pelangi yang indah, Tuhan, saya masih ingin disini menemani ibu.
Katanya quote ini diciptakan ketika pidi masih SMA dan langsung membuat saya merinding. Ternyata orang ini sudah mampu memikirkan hal berat semenjak ABG. Dari quote ini saya menggaris bawahi kalimat kalau aku pulang, kenapa tidak menggunakan kata mati atau meninggal saja yang lazim digunakan?. Berdasarkan pemahaman yang saya bisa dapatkan, ketika manusia habis kontraknya untuk menempati bumi yang indah maka dia akan mati secara lahiriah dan ruh nya pulang menemui sang pencipta. Jasadnya rusak tetapi pengisinya utuh ketika kembali kepada yang memilikinya. Manusia diberikan kehidupan untuk mengumpulkan tabungan sebanyak-banyaknya untuk ongkos dan persediaan pulang ke rumah abadi. Mungkin saya berlebihan, karena bisa saja pidi menulis pulang karena dia ingin tapi ini tafsir  versi saya jadi tidak ada masalah.

Tujuh quote ini tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan jumlah ‘muntahan’ seorang Pidi, tidak akan memiliki makna bila membacanya disertai dengan rasa iri, dengki, atau emosi. Keep Calm & Kosongkan Hati.

Rizza Hujan






Sabtu, 26 Juli 2014

Gunung (Sebuah Cerita)

Namaku Gunung, titik. Tidak ada kata lain sesudah atau sebelumnya. Singkat seperti halnya Dono atau Indro, malah terlalu singkat menurutku. Kata orang tuaku nama gunung terkesan sangat laki, satu kata yang mewakili keindahan dan karakter gagah. Aku pernah bilang indah itu bukan padanan kata gagah, kenapa sih tidak menamaiku yang lain, minimal terdiri dari dua suku kata agar terlihat keren di ijazah atau kartu namaku. Bapakku langsung menjawab “Lihatlah Soekarno gun, orang mengenalnya dengan nama yang terdiri dari satu suku kata tapi bisa menguasai satu negara kaya dan besar seperti Indonesia”. Akupun kalah kemudian berlalu sambil berkata “Aku hanya tidak suka dipanggil gun”.

Peristiwa itu terjadi waktu aku SMP, saat dimana jiwa kebarat-baratanku berada di persimpangan. Aku ingin punya nama seperti temanku yang lain, nama yang menurutku keren, berwibawa, dan panjang seperti Alexander Supertramp atau yang berbau timur tengah seperti Muhammad Daud Alberto. Temanku ada yang bernama Raspati Angga, Rd. Ilham Firnadi Anugrah, dan Agung Laksana. Betapa gagahnya nama-nama itu. Aku selalu berpikir nama akan mempengaruhi tingkat kepercayaan diri seseorang, semakin pendek sebuah nama maka orang itu akan semakin merasa terkucilkan.

Tapi setelah aku mengetahui kalau nama Agung Laksana itu terinspirasi dari nama toko elektronik di pasar anyar aku jadi berpikir ulang. Pemahaman baru memenuhi kepalaku, yang terpenting dari sebuah nama adalah filosofi atau sejarahnya. Bapakku benar dalam masalah ini, benar dalam mengambil filosofi kata gunung. Sejak saat itu perlahan-lahan aku mulai menanamkan dalam diri bahwa nama Gunung lebih berkualitas daripada Agung Laksana, walaupun masih kalah keren dari Raspati Angga atau Rd. Ilham Firnadi Anugrah.

Aku berusia 23 tahun dan kuliah di sebuah universitas swasta di Bogor. Selain itu aku bekerja sebagai seorang jurnalis free magazine. Di kampus, aku adalah mahasiswa yang berada di tengah-tengah, bukan mahasiswa rajin ataupun aktivis radikal. Aku hanya aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sastra, suka membuat event yang berbau sastra, musik, olahraga, atau mistik. Kadang aku juga siaran asal-asalan di radio sastra yang pendengarnya berupa mahasiswa bertampang lusuh dengan kemeja flannel dan jins belel yang sedang menikmati segelas kopi beramai-ramai di kantin sastra sebelah radio, jumlahnya sekitar 3 orang. Selain itu aku suka musik, buku, kopi, fotografi, menulis dan naik gunung. Banyak orang bilang aku unik karena bernama gunung dan suka naik gunung. Ada juga yang berpikir aku cari sensasi. Sudah tinggal di sebuah desa di kaki gunung, suka naik gunung, bernama gunung pula. Maunya apa sih?! Sangat tidak kreatif dan maksa katanya.

Hari itu masih pagi waktu Redi sang pemilik kamar kos tempat aku numpang tidur membangunkanku “Gun, kuliah nggak?” aku hanya menjawab dengan gumaman pelan lalu tidur lagi. Setengah dua belas siang aku terbangun gara-gara mendengar suara seperti kerbau tercekik, waktu kulihat ternyata Egi yang tidur di sebelahku ngorok menggunakan semua kemampuannya, dengan enggan aku berdiri dan mandi.

Selesai mandi aku membuat kopi hitam sachet yang selalu tersedia dalam tas lalu duduk di teras kosan sambil membayangkan pengalaman beberapa hari yang lalu. Aku bersama 3 orang kawan naik ke puncak salak, dan tersenyum sendiri ketika mengingat alasan kami berempat naik ke salak. Aku, Egi, dan Yudi baru saja mengalami kejadian yang begitu berdampak besar terhadap mental seseorang yang sedang mencari jati diri, kejadian itu adalah putus cinta. Yudi yang mengusulkan untuk naik gunung dengan tujuan melupakan segala kegalauan akibat putus hubungan cinta, Egi dan aku langsung berteriak siap. Kami begitu bersemangat melakukan perjalanan itu, terutama Egi. Dia bilang “Kalau udah sampai puncak kita curhat sampai pagi”.  Aku jawab “Mantap gi, kopi dan curhat adalah pasangan sempurna untuk udara dingin”. Begitu sampai di puncak salak sabtu sore, aku dan egi saling berpandangan. Kami senang dan puas karena berhasil sampai puncak tapi juga takut melihat diatas sana ada satu kuburan. Malam dilewati dengan hening, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami. Akhirnya empat orang jejaka ini tertidur sampai matahari terbit. Minggu siang kami turun dan sesampainya di kampus yang kami jadikan tempat start dan finish, aku bersama Egi pergi ke kosan Redi sementara Yudi dan Ferdi sang guide pulang.

Sambil senyum-senyum sendiri aku beranjak kedalam kamar kosan dan mengambil gitar lalu memainkan sebuah lagu.

Help me out just get me out of here
Is anybody outside help some stranger here
Pull me out im gonna die in here
Can anybody out there want be my square

Kopi, gitar, dan lirik yang menyayat hati adalah salah satu kombinasi konyol untuk menyingkirkan rasa tersiksa akibat patah hati. Tapi tetap saja aku menyanyikan lagu Polypanic Room milik Polyester Embassy yang di covering oleh Katjie & Piering dengan sempurna. Sangat sempurna untuk orang yang sedang dalam keadaan sepertiku, apalagi dinyanyikan di teras kosan.

Is anybody there can whatch me
Is anybody there can hear me
I feel lost and feel empty
Is anybody there can feel me

“Berisik Gunung!!” Tiba-tiba Egi berteriak.
“Bangun badak, udah siang nih” Balasku tidak kalah keras. Aku masih memainkan gitar sambil bernyanyi dengan suara lebih lantang. Egi akhirnya bangkit dari kematian sementaranya, menghampiriku lalu menyalakan djarum super kesukaannya.
“Sial, gua belum puas tidur gun”. Gerutunya.
“Allllaaaahh..kemarin lo nyampe langsung tidur, guamah nyuci baju dulu, baru tidur jam 9”.
“Ck…yang lain mana?”
“Nggak tahu, tadi pagi sih ada Redi terus ke kampus kayaknya”
Egi masuk lagi ke kamar, tidak lama kemudian terdengar Kurt Cobain menyanyikan Smells Like Teen Spirit. Ini adalah kebiasaan egi setelah bangun tidur, merokok sambil mendengarkan band favoritnya Nirvana dengan volume kencang.
“Panas gi, musiknya yang santai aja sih”. Kataku, tapi sepertinya tidak terdengar oleh egi.
“Eh gun, Dian sms lo nggak?” tiba-tiba Egi keluar dari kamar.
“Nggak, kenapa?”
“Sama, Nisa juga nggak sms gua”
“Terus kenapa, ngarep amat?!”
“Ah lo sih enak gun ganteng, cewek nyariin lo. Nah gua yang buruk rupa begini siapa yang nyari?”
“Ada gi, abang lo sama si Nina”
“Ck…adik sama abang gua buat apaan? dijual juga paling dapet super setengah” sungut egi.
“Tenang aja gi, gua selalu yakin lo bakal balik lagi sama Nisa. Lo kan muka buruk berhati mulia” kataku sambil tersenyum manis dan membuat Egi geli lalu masuk lagi ke kamar, mengganti nirvana dengan album kompilasi yang dibajaknya dari komputerku.

Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi
Tercipta nelangsa merenggut sukma
Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud
Aku tak bisa pindah…pindah ke lain hati

 “Cocok nih lagu, gua nggak bisa pindah ke lain hati”. Kata Egi.
“Haduh lo jadi cowok hopeless amat, malu sama muka gi”
“Kos nu henteu wae sampeu!” Katanya memakiku dengan bahasa sunda yang artinya “Kayak yang nggak aja lo singkong!”
“Gua seneng kalau deket dia gun. Nyaman gitu”
“Hati-hati. Kesenangan tidak selalu berkorelasi positif dengan kebahagiaan gi”
“Maksudnya?”
“Elo jangan sampai terjebak dengan kata-kata senang itu karena tidak selamanya sesuatu yang membuat kita senang bisa bikin kita bahagia juga”.
“Maksud lo senang dan bahagia itu dua hal yang berbeda?”
“Ya. Contohnya waktu kita naik gunung, hunting foto, atau makan sama anak-anak, senang kan? Tapi ada kalanya waktu melakukan itu semua kita kepikiran orang-orang terdekat kita, terutama keluarga. Atau kadang suka ingat sama orang yang hidupnya kekurangan yang ada di sekitar kita kan? Akibatnya perasaan senang itu tidak berlangsung lama. Nah jangan sampai lo ngalamin ini sama Nisa”
“Lain lagi dengan bahagia gi, selama kita bahagia perasaan senang akan ikut serta secara otomatis. Contoh waktu kita ngecrek buat aceh. Panas-panasan seharian sampai kulit kebakar, tapi kita asik-asik aja kan? Nggak cowok atau cewek semua ketawa dan semangat”.
“Jadi bahagia itu bisa kita dapatkan walaupun kita mengalami sesuatu yang bikin kita kurang nyaman kayak kulit kebakar itu?”.
“Persis!”
“Kalau gitu bisa jadi sekarang gua bahagia dong gun? Gua kan tersiksa tanpa Nisa”
“Mungkin, tapi hati-hati. Itu maksud gua”.
“Siap pak bos, gua akan lebih hati-hati. Gua pake helm deh kalau mikirin Nisa“
Aku nyengir “Terserah deh, gua cabut dulu ah”
“Mau kemana?. Tanya egi.
“Ke kantor, setor muka terus nyari buku”
“Gua nitip Slam Dunk nomer 24 ya”
“Iya” jawabku sambil mengambil tas.
“Berangkat ya, assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam…”.



CHAPTER 2

Sebenarnya aku malas pergi ke kantor, lelah setelah naik gunung masih belum hilang sepenuhnya. Tapi aku tetap harus kesana untuk bertemu pimpinan pekerjaan. Aku bekerja di sebuah majalah lifestyle yang lumayan sudah punya nama di Bogor. Job desk utamaku sebagai editor, tapi dalam kesehariannya hampir semua aku kerjakan. Mulai meliput kegiatan, menyunting tulisan, membuat program, dan kadang aku bertransformasi menjadi marketing sekaligus distribusi. Memang berat tapi aku menikmati pekerjaan ini, bekerja pada media merupakan passionku. Aku percaya dengan apa yang dikatakan Rene Suhardono bahwa setiap orang seharusnya bekerja di tempat yang membuatnya nyaman dan berkembang sebagai individu. Semua orang berhak merasakan bahagia, termasuk dalam bekerja. Kalau merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang sedang dilakukan maka tinggalkan pekerjaan itu dan carilah passion pribadimu. Setelah pindah kesana-sini dengan bidang yang berbeda, akhirnya aku menemukan passion pribadiku yaitu menjadi seorang jurnalis.

Karena sedang tidak membawa kendaraan, aku harus naik angkutan umum untuk pergi ke kantor. Menurutku naik angkot itu menyenangkan, selain tidak harus berkonsentrasi pada jalannya kendaraan aku bisa menikmati pemandangan yang dilewati. Yang paling menarik adalah memperhatikan orang-orang yang berada satu angkot denganku. Di sudut angkot ada dua ABG yang sedang asik membicarakan cowok kecengannya dan mengagungkan Boyband korea yang bagiku tampak seperti manusia setengah laki-laki dengan suara berisik. Sementara disebelahnya ada seorang perempuan berkerudung yang sibuk memainkan jari diatas keypad Blackberry tanpa memedulikan ABG berisik atau seorang laki-laki muda menarik yang duduk didepannya, laki-laki bernama Gunung. Oh betapa manusia sudah dijajah terlalu jauh oleh teknologi. Dibelakang kursi supir duduk seorang perempuan sedang membaca buku berjudul Hujan Bulan Juni. Anak sok nyastra, pikirku yang selalu menganggap diriku dan teman-teman sebagai penggemar sastra nomor wahid.

“Kiri..kiri!!” kataku begitu menyadari angkot yang kutumpangi sudah sampai di depan komplek perumahan tempat kantorku berada. Akupun turun dan membayar ongkos. Setelah berjalan kurang dari sepuluh menit aku sampai diparkiran sebuah rumah berlantai dua bercat merah menyala dengan halaman yang cukup luas, kantorku.
“Nung!” Terdengar sebuah suara memanggilku dari cafĂ© di seberang kantor dan dari caranya memanggilku aku langsung tahu siapa orangnya.
“Nung, sini”. Teriaknya lagi.
Akupun menghampirinya dengan memasang muka heran pada seseorang yang duduk di depan orang itu.
“Apa sih sen?”. Sendy, desainer di tempatku bekerja, teman kampus, dan drummer band Hardcore yang dibentuknya bersamaku. Cuma dia yang memanggilku dengan sebutan nung, bukan gun atau gunung.
“Gua mau ngenalin seseorang” Kata Sendy sambil melirik pada wanita di depannya.
“Achi, kenalin ini Gunung. Editor Rain Magazine, salah satu vokalis cadas bogor, dan playboy sejati”.
“Sial! Jangan didengerin babi air ini”. Kataku sambil menyodorkan tangan.
“Hihi” Achi Cuma tertawa kecil. Manis juga cewek ini, mukanya tirus, hidung mancung, mata coklat, dan bandana putih menghiasi rambutnya yang seleher. Badannya tidak gemuk tapi tidak juga terlalu kurus, kulitnya putih. Achi terlihat santai dan ngerock dengan sepatu vans biru berstrip merah, jins, dan kaos putih bertuliskan Walls Of Jericho di depannya.
“Achi” Katanya sambil menerima uluran tanganku.
“Gunung”. Balasku.
“Udah jangan lama-lama, sana lo masuk”. Kata Sendy mengusirku.
“Yuk chi kita berangkat”
“Mau kemana?” Tanyaku.
“Nyari inspirasi”.
“Trus lo ngapain manggil gua kesini bodoh?!”
“Kan tadi gua bilang mau ngenalin seseorang. Sekarangkan udah kenal jadi misi selesai dan lo boleh pergi”.
Sendy memang konyol dan suka bercanda. Banyak orang yang pernah dikerjainya dan aku yakin dia sekarang dia cuma pamer Achi di depanku, dia selalu begitu.
“Hey pergi sana, lo ditunggu Tia dari tadi” Kata sendy lagi.
“Lo mau kemana?” Tanyaku lagi.
“Beli Dvd. Nanti ke kosan nggak?”
“Kayaknya sih, tapi gua pulang dulu”
“Yaudah gua cabut. Dadah nung…”
“Gunung pergi dulu yah” Kata Achi sambil tersenyum.
“Oh iya chi, hati-hati”
“Maksud gua hati-hati sama yang lagi jalan ma lo”
“Hehe…tenang, gua udah punya penagkalnya. Yuk ah”
“Sip”

Kemudian aku bergegas masuk ke kantor dan mencari Tia atasanku. Ternyata dia sedang menemui tamu dari sebuah perusahaan penerbangan Jakarta. Aku ke dapur dan minta tolong si mamat untuk membuatkan kopi. Setelah sekitar limabelas menit menunggu, akhirnya Tia keluar dari ruang meeting dan menghampiriku yang sedang duduk menikmati kopi bersama sebatang sampoerna mild.
“Dari mana aja lo?” Tanya Tia. Kalau ada yang berpikir Tia adalah seorang cewek berkulit putih, rambut sebahu, dan memakai kacamata maka sangat salah. Tia atasanku ini laki-laki berkulit hitam, kurus, muka bulat, dan berjenggot. Nama lengkapnya Taufik Setiawan, tapi dia lebih suka dipanggil Tia daripada taufik. Antara aku dan pimpinanku ini memang tidak ada jarak, dia selalu menggunakan kata lo gua padaku dan Sendy. Kami bertiga merupakan rekan kerja yang terlalu sering berkumpul bersama hingga jadi teman curhat. Dan aku menyukai keadaan seperti ini, suasana yang membuatku seperti di tengah sahabat atau keluarga.
“Maaf gua kesiangan kang, kan abis dari Salak” Jawabku
“Oh iya gua lupa” Kata Tia lalu mengajakku ke ruangannya di lantai dua.
“Terus gimana?“ Tanyanya lagi.
“Apanya?”
“Naik gunungnyalah”
“Oh, seperti biasa. Selalu menyenangkan sekaligus menantang”
“Salak itu gila. Track diatas, tanahnya gambut dan kanan kiri jurang. Kalau terperosok insya allah nggak selamat”.
“Kenapa nggak loncat sekalian? Kan patah hati?”
“Hahahahahaha…” Aku tertawa keras
“Sory kang, gua kan jagoan hehehehe jadi nggak boleh mati”
“Ada apa nyari gua?” Tanyaku sedetik kemudian.
“Gini gun, gua berencana mau bikin website Rain. Jadi bisa digunakan sebagai senjata juga buat anak-anak marketing. Kontennya pasti sama dengan majalah, ditambah sedikit link social media sama info-info penting seputar bogor”
“Ok juga kang tapi bukannya dulu lo nggak mau main di online?”
“Iya. Tapi tadi gua ketemu orang perusahaan penerbangan dan dia tertarik untuk bekerjasama dengan kita. Syarat utama kita harus punya web.”
“Kerjasama apa?”
“Distribusi, iklan, sama event.”
“Gitu. Trus?”
“Di web kita nanti harus ada juga directory.”
“Directory apa?”
“Semua tempat yang penting untuk masyarakat bogor, mulai dari hotel, resto, tempat wisata, show room, bengkel, supermarket, tambal ban, kontrakan dan lain-lain”
“Dan lo gun, jadi PJ ya”
“Hah? Gua sendirian?”
“Ya maksimalkan anak buah lo dong”
“Nggak bisa kang, kerjaan departemen gua banyak dan SDMnya sangat terbatas. Kalau kita fokus ke directory semua siapa yang mau ngisi konten majalah?”
“Sambil lewat nggak bisa?”
“Lo kasih waktu berapa lama?”
“Tiga bulan”
“Nggak bisa, harus ada tim khusus buat ini”
Tia berpikir sejenak lalu melanjutkan bicara.
“Fokus ke yang gede aja dulu gun, jangan langsung semua. Yang penting ada data dulu”
Sekarang giliranku yang berpikir.
“Kalau gua pake si Mamat sama Dede gimana? Jadi anak-anak produksi bisa back up gua buat ngisi konten. Sekalian mereka belajar juga kang”.
“Ya udah, tapi lebih enak lo atur jadwalnya biar kerjaan mereka nggak terganggu. Trus jangan lupa profil band indie yang mau kita angkat”
“Ok. Gua ngobrol dulu sama mereka. Band yang mau diangkat minggu depan kesini”
“Band Rock? Darimana?”
“Iyalah. Kan sesuai tema Rocktober. Asli bogor”
“Mantap. Oiya perjalanan lo kemarin ditulis aja buat trip report”
“Kan kita majalah kang, bukan tivi”
“Trus kenapa? Emang ada aturan baku yang nggak memperbolehkan majalah punya trip report?”
“Nggak ada sih”
“Jangan terlalu terpaku sama aturan gun. Bukannya gua ngajarin lo buat melanggar, tapi dalam hidup ini banyak hal dan masalah yang akhirnya bisa diselesaikan tanpa menggunakan aturan yang ada.”
“Ngutip darimana tuh?”
“Bikin sendiri dong, emang lo doang yang bisa bikin quote. Minggu depan selesai ya tulisan lo”
“Baiklah bapak pimpinan. Gua nemuin Mamat sama Dede dulu ya.”
 
Bersambung....

Sekaleng Khong Guan

Kamu tahu?!
Kemarin aku terluka
Minggu lalu aku bahagia
Sebulan kemarin aku tanpa rasa
Sementara hari ini, aku biasa saja

Kamu tahu?!
Rasa yang kita punya tak ada artinya
Jika tidak tahu cara membaginya

Kamu tahu?!
Hidup tak jauh berbeda dengan sekaleng Khong Guan
Dari luar tampak tak menggoda
Buka tutupnya lalu rasakan
Manis bukan?

Kamu tahu?!
Tawar bukanlah rasa
Melainkan awal dari segalanya